Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Rabu, 08 Februari 2012

Satu Dalil Mahyusu

“Meminta lebih mahal dari pada membeli,” (dalam mafia manager oleh Mr. V, sang penulis misterius)


Membaca dalil yang saya tulis di atas, dikutip dari buku yang ditulis oleh Mr. V. Ini merupakan salah satu prinsip bagi para mafioso. Sang penulis misterius ini tidak menjabarkan maksud dari dalil itu. Bagi saya dalil tersebut bersifat aforis, singkat tapi penuh makna. Mungkin saya menilainya begitu karena setelah penulis tersebut menuliskannya, dia mengakhiri dengan tanda koma.

Kata “mahal” saja itu bisa dipandang dari sisi ekonomi, nilai, psikologis atau sebuah analogi. Bisa juga kata “mahal” adalah perluasan makna dari sebuah barang yang tinggi harganya, yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat kebanyakan.

Dalil itu membenturkan perbuatan “meminta” dengan “membeli”. Jika kita meminta kepada seseorang, kita tidak mengeluarkan modal (barang yang bernilai-duit) untuk memilikinya. Yang dibutuhkan mungkin sikap memelas, muka penuh rasa iba, atau penampilan yang memperlihatkan sikap orang yang perlu dikasihani. Cukup dengan itu saja. Itu juga sebenarnya modal, tapi modal yang tidak bernilai bagi yang “membelinya”.

Bagi mafioso, cara meminta bukanlah cara yang patut dilakukan. Untuk memperoleh sesuatu, jika tidak dengan cara membeli, berarti dengan mengambil. Mengambil dengan cara mencuri, menipu maupun dengan kekerasan. Semiskin apapun, mafioso pantang memelas.

Lihat saja latar belakang para bos mafia (mahyusu: dari bahasa Arab) Italia yang ada di Amerika antara tahun 1920-1990-an. Rata-rata, latar belakang kehidupan keluarganya miskin. Tapi mereka berjiwa besar. Mereka menginginkan harta yang berlimpah, kehidupan mewah, dipandang terhormat, bisa membeli apa saja, dan memiliki kedudukan yang tinggi.

Alphonso Gabriel Capone yang sering dipanggil Al Capone saja awalnya tidak memiliki pekerjaan. Dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun, dia sudah menjadi bos Chicago Outfit, kota Chicago hampir dikuasai oleh bos Al Capone.  Dia tidak meminta pekerjaan kepada John Torrino (yang akan menjadi bosnya). Dia membentuk positioning diri di hadapan John Torrino. Dia melakukan hal-hal tertentu yang membuat John Torrino menyukai Al Capone. Al Capone membuat John Torrino berkesan, dia pun mendapatkan tawaran John Torrino. Dengan berjalannya waktu, John Torrino pun menyerahkan bisnisnya kepada Al Capone.

Begitu cara Al Caphone membeli dengan posiotioning diri kepada John Torrino, bukan dengan cara meminta pekerjaan kepadanya.

Atau seperti empat sekawan mafioso, Lucky Luciano, Bugsy Siegel, Frank Costello dan  Mayer Lansky. Mereka membangun kekuatan organisasi dari hal-hal terkecil. Saya akui kehebatan kerajaan bisnis mereka walaupun dunia mereka berawal dari kekerasan dan pemerasan. Karier mereka cepat naik ketika Luciano membunuh dua bos besar, Salvatore Maranzano si The Boss Of Bosses atau dalam istilah dalam bahasa Italia adalah Il Capo Dei Capi. Bos satu lagi yang ia bunuh adalah Caponya sendiri, Joe Masseria.

Para mafioso tidak mendapatkan kesuksesaan dengan meminta atau memelas, pantang bagi mereka. Bahkan modal awal untuk membangun kekuatan bukan dengan cara meminta, tapi dengan melakukan sinergi dengan kawan-kawannya.

Film Godfather bagi saya cukup memberikan gambaran yang jelas tentang dunia mafia. Bagaimana Vito Corleone mendirikan bisnisnya dengan usahanya sendiri. Tidak ada film yang bertema mafia bisa memberikan gambaran yang jelas selain film Godfather.

Jika bukan dengan cara meminta, mereka mendapatkan sesuatu dengan cara membeli. Membeli dengan apa saja. Bukan hanya dengan duit, apalagi bagi mafioso pemula untuk mendapatkan sesuatu tidak mungkin dengan duit. Mereka membelinya dengan kehebatannya, dengan jiwa besarnya, dengan keahlian yang dimilikinya.

Sudah saya katakan, hampir semua bos mafia itu awalnya miskin semua. Bahkan mafioso Indonesia seperti Tommy Winnata saja membangun kerajaan bisnis dengan kemampuannya sendiri, dia hidup dari keluarga miskin dan tidak mewarisi yang bisa dijadikan modal membangun kerajaan bisnis dari orang tuanya. Saya ingin mengatakan, pengusaha-pengusaha besar Indonesia juga masuk dalam kategori mafioso.

Kemampuan melakukan pendekatan terhadap objek sasaran kepentingan mafioso adalah dengan cara membeli. Jika pernah menonton film Eastern Promise, bagaimana si Sopir yang cerdas didaulat oleh bos mafia Rusia menjadi anggota mafia tidak dengan memohon, tapi membeli dengan kecerdasannnya. Si Sopir membentuk positioning diri di hadapan majikannya selama berpuluh-puluh tahun.

Membeli dengan duit, merupakan suatu keistemewaan, inilah keinginan mafioso. Mereka ingin membeli segalanya mesti dengan cara membeli dengan duit. Duit merupakan indikator kesuksesaan mereka.

Frank Costello bisa mendekati para pejabat dengan menggelontorkan duit disamping dia juga hebat dalam menjalin hubungan dengan para pejabat dan politisi. J.F Kennedy bisa menjadi presiden itu karena mendapatkan bantuan dana kampanye dari organisasi mafia. Mafioso menginvestasikan duitnya kepada politik. Cukup besar dan berarti duit kampanye yang diterima Kennedy dari para mafioso.

Fenomena di negeri Indonesia, pengusaha-pengusaha kakap bisa dengan bebas lepas dari hukuman karena mereka bisa membeli hukum. Penegak hukum mereka beli, aparat tinggal dikasih lembaran duit langsung manut. Undang-undang pun mereka tukarkan dengan rupiah atau dollar.

Tapi tidak segala hal bisa dibeli. Hal ini karena membeli itu tidak mudah, dan mengeluarkan ongkos yang sangat banyak jumlahnya. Bahkan ada hal-hal tertentu yang sulit untuk dibeli. Ketika John Gotti ingin menjadi bos besar, dia merampas kedudukan Paul Castellano. Karena Castellano tidak akan mau menyerahkan posisi bos yang ditempatinya kepada John Gotti, Gotti pun semakin nekad untuk merampasnya.

Saat Castellano turun dari mobilnya, tiba-tiba empat orang berpakaian ala Rusia menghantamkan peluru ke arah Castellano. Inilah cara John Gotti mengambil kedudukan Castellano. “Membeli lebih mahal dari pada mengambil.” Kalimat inilah yang mengawali tanda koma setelah kalimat pembuka tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar