Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Rabu, 20 Juni 2012

Orang China Membangun Kota

Beberapa Minggu lalu, saya menerima tugas untuk mengantarkan barang seberat dua ton lebih ke kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, melalui kapal besar milik Pelni. Sesampai di Pelabuhan Kijang Kabupaten Bintan, saya memesan truk untuk mengantarkan barang tersebut ke Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang. Saya pun sedikit bertanya-tanya tentang Tanjungpinang dan daerah Kepulauan Riau lainnya kepada sopir truk hingga banyak cerita yang diungkapkan sopir tersebut. Sopir truk itu mengatakan, bahwa populasi terbesar kota Tanjungpinang adalah orang China, tentunya tak tahu berapa persennya. Yang jelas, orang China menguasai perekonomian di kota Tanjungpinang.

Justru orang Melayu tak terjun dalam dunia perdagangan. Mereka tak memiliki toko, hotel, restauran dan pusat berbelanjaan lainnya. Kebanyakan orang China yang menguasai perekonomian di kota tersebut. Sisanya baru orang Jawa, Maluku, Padang, dan lainnya. Orang Melayu lebih suka tinggal di pesisir pantai dan sisi laut dengan mendirikan rumah panggung. Mata pencaharian utamanya adalah hasil tangkapan melaut.

Bersama salah satu kepala bidang Dinas Pariwisata Kota Tanjungpiang, saya juga banyak berbincang. Kepala dinas itu mengatakan, bahwa populasi tersebesar di kota tersebut adalah orang Melayu, yang kedua adalah orang China, ketiga dari pulau Jawa, selebihnya dari Sumetara, Maluku, NTT, dan orang timur lainnya. Sehabis dari Tanjungpinang, saya menuju kota Batam yang dikenal dengan industri elektronik. Batam berdekatan dengan negara Singapura. Kurang dari dua jam, dari ktoa Batam kita bisa singgah di negeri Jiran ini.

Saat saya menaiki taksi, sempat berbincang dengan sopir taksi yang berasal dari Padang ini. Dia mengatakan bahwa tanpa orang China, Batam tidak akan menjadi kota, dan tidak akan seramai sekarang. Jika kita menengok Singapura, pulau yang berdekatan dengan kota Batam, populasi terbesar adalah orang China yang mencapai 70 persen lebih, jauh dari populasi orang Melayu. Bahkan Singapura didirikan oleh orang-orang China yang sudah menetap dan membangun kota di Singapura.

Sepulang dari Kepri, saya membaca sebuah buku berjudul Asian Godfather: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa, yang ditulis oleh seorang jurnalis Amerika Serikat bernama Joe Studwell. Godfather bisa diterjemahkan secara harfiah adalah bapak baptis. Istilah ini diperkenalkan oleh seorang jurnalis Mario Puzo dalam novelnya berjudul Godfather. Godfather bisa diartikan sebagai pemimpin, baik dalam dunia bisnis mapun dunia lainnya yang memiliki pengaruh yang kuat, dapat mengendalikan banyak hal yang dia inginkan. Seorang godfather seperti seorang raja yang memiliki banyak prajurit.

Buku Asian Godfather mengupas kisah perjalanan para bos dan raja bisnis di Asia, terutama Asia Tenggara. Dapat ditebak, yang dimaksud godfather dalam buku tersebut ternyata orang-orang China. Sebut saja ada nama taipan Sudono Salim, Tommy Winata, Bob Hasan, dan Sukanto Tanoto, orang China yang membangun kerajaan bisnis di Indonesia. Godfather lain yang diceritakan buku ini adalah Henry Kuok, godfather di Hongkong. Para taipan lain di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand juga orang China. Memang benar, dengan kehadiran orang China ternyata membawa pembangunan ekonomi suatu negara.

Menyebut bisnis orang China, tak hanya diidentikan dengan orangnya saja. Tetapi, negaranya pun lebih handal dalam menjalankan perdagangan dengan negara lain. Tengok saja, di setiap pasar pasti ada produk China. Tak hanya di Indonesia, di negara maju seperti Amerika dan Eropa saja pasar-pasar dibanjiri dengan produk China. Kini, perekonomian dan perdagangan sudah hampir berada di tangan China. Ke depannya, industri teknologi akan dikuasai oleh China.

China hanya berdagang, yang menjajah dan menjarah itu Amerika, Eropa dan Jepang. Salah jika kita mengatakan China menjajah Indonesia dengan ekonomi. Sumber daya alam yang ada di Indonesia contohnya banyak dieksploitasi oleh Amerika dan Eropa. Dua kekuatan ekonomi tersebut, ditambah Jepang yang turut dalam perang dunia itu. Negara-negara tersebut juga banyak menjajah negara-negara Asia. Sementara China tak pernah menjajah dan menjarah negara lain. Bahkan China masuk dalam wilayah jajahan Eropa dan Jepang.

Orang China yang menjadi warga negara di negara tertentu juga lebih memilih berdagang dibandingkan masuk dalam lingkaran politik. Di Indonesia contohnya, mereka lebih memilih dekat dengan penguasa untuk memudahkan bisnisnya dibandingkan masuk politik. Sebut saja Lim Sioe Liong alias Sudono Salim yang tanggal 10 Juni 2012 meninggal di Singapura, semasa hidup di era Orde Baru amat dekat dengan Soeharto. Tommy Winata yang disebut anak ajaib itu amat dekat dengan kalangan militer. Melalui TB Silalahi, Tommy Winata diperkenalkan dengan petinggi-petinggi militer yang akhirnya mendapatkan banyak proyek.

Orang China yang kini banyak menjadi godfather, handal dalam lobi bisnis. Mereka cakap dalam mendekatkan diri dengan para penguasa. Berbicara godfather hanyalah wilayah para petinggi. Sulit untuk memahami bagi kita yang hanya golongan menengah bawah. Lebih real dan kasat mata adalah menengok pusat perbelanjaan serta pabrik-pabrik yang 24 jam tak pernah berhenti bekerja. Siapa pemiliknya, tentu saja mayoritas orang China.

Kebetulan sekali, saya sering kali ke percetakan yang ada di Bandung. Hampir semua percetakan dimiliki orang China. Begitu pula pusat percetakan di Jakarta yang terletak di Kali Baru, Pasar Senen, hampir semua mesin-mesinnya dimiliki orang China. Begitu pula pusat perbelanjaan semacam mall, departemen store, minimarket, dan pasar elektronik pemiliknya orang China pula. Sepertinya, orang China sudah ditakdirkan menjadi pedagang.

Sebuah kota bahkan negara bisa dibangun melalui aktivitas perdagangan. Kota bisa dikatakan ramai jika terdapat aktivitas bisnis dan perdagangan. Negara rapuh bila aktivitas bisnisnya macet. Kita dapat melihat ramainya jalan raya dan menjulangnya bangunan tinggi karena di sana terdapat aktivitas ekonomi atau bisnis atau juga disebut dagang. Sebentar lagi, Indonesia akan memiliki gedung tertinggi kelima di dunia yang dimiliki Tommy Winata. Tentu saja gedung tersebut digunakan untuk aktivitas ekonomi.

Saya jadi teringat dengan hadist nabi Muhammad, bahwa 99 persen pintu rizki itu ada di bidang perdagangan. Bahkan Muhammad juga pernah menyinggung tentang China, seperti perkataannya bahwa “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China.” Berdagang, bisa membuka berbagai pintu. Orang bisa berdagang apa saja, seperti berdagang hukum, dagang pendidikan,  dagang ilmu, dagang siraman rohani, dagang tubuh, dagang politik dan kekuasaan, serta apa saja bisa diperdagangkan. Orang China lebih memilih dagang produk yang dibutuhkan manusia.

2 komentar:

  1. Sependapat dengan isi tulisan :)

    BalasHapus
  2. betul,orang cina layak ditiru keuletanya..
    adildanmakmur.blogspot.com

    BalasHapus