Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Jumat, 22 Juni 2012

Green Economy dan Animisme-Dinamisme


Bumi semakin memanas, hutan semakin gundul, air bersih sulit diperoleh, kekayaan laut banyak dikuras, sungai-sungai serta serapan air sudah diracuni dengan limbah pabrik, udara sudah tak bersih lagi, sumber energi sudah semakin langka. Intinya bumi tak sehijau dulu lagi. Semuanya karena ulah manusia kapitalis yang amat serakah itu. Ujung-ujungnya menimbulkan kerusakan lingkungan, konflik sosial dan terjadinya ketimpangan ekonomi. Yang disalahkan justru semua individu yang merasa dirinya manusia. Sementara manusia-manusia yang telah meraup keuntungan dari alam, dan membiarkan alam rusak malah cengengesan.

Kita yang tak memiliki kekuatan hanya bisa berharap, semoga KTT Bumi Rio+20 yang diselenggarakan pada 20-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brazil dapat merubah pola pembangunan ekonomi dari keserakahan menuju berkelanjutan. Dua isu utama dalam konferensi tersebut yaitu green economy (ekonomi hijau) dan pembangunan berkelanjutan. Kini, sudah banyak manusia yang sadar betapa pentingnya keharmonisan alam dan lingkungan.

Dalam program PBB, yakni United Nations Environment Programme (UNEP) mendefiniskan ekonomi hijau dengan cukup sederhana. Ekonomi hijau menurut UNEP adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Tujuannya supaya dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam dapat dihilangkan.

Saya mendapatkan definisi ekonomi hijau secara sederhana dari http://alamendah.wordpress.com/2012/06/03/mengenal-pengertian-ekonomi-hijau-green-economy/, yaitu perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. Ekonomi hijau melengkapi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Prinsipnya adalah memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang.

Semestinya pengelola negara dan perusahaan swasta sudah sedari dulu sadar, bahwa alam tidak selamanya akan ramah pada manusia. Mesti dijaga kelestariannya tanpa menghancurkan ekosistem lain. Bahkan banyak perusahaan yang menghancurkan kebudayaan masyarakat setempat dengan mengeksploitasi kekayaan alam, seperti perambahan hutan, penambangan minyak, gas dan mineral lainnya. Banyak pihak berharap, ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan menjadi solusi dalam persoalan ekonomi, pembangunan serta lingkungan.

Karena dua isu tadi berkaitan dengan alam dan lingkungan, seharusnya kita kembali merenungi sistem kepercayaan nenek moyang kita dulu. Animisme dan dinamisme disepakati sebagai kepercayaan pertama manusia Indonesia. Anismisme merupakan sistem kepercayaan yang menjadikan benda-benda di bumi sebagai kekuatan. Benda-benda di bumi seperti gunung, laut, hutan dan dalam perut bumi memberikan penghidupan kepada manusia.

Sementara dinamisme merupakan kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib. Nenek moyang kita sangat menyayangi alam, gunung, laut, sungai, tanah, pepohonan, dan lingkungan. Saking sayang dan rasa hormatnya amat tinggi sehingga mereka memuja alam dan lingkungan yang dimaksud.

Tentunya mereka tak berani merusak, apalagi mengeksploitasi alam dengan serakah. Mereka hanya mengambil kekayaan alam seperlunya saja, sesuai dengan kebutuhan untuk keberlangsungan hidupnya. Mereka tak menumpuk kekayaan dengan mengambil hasil bumi secara berlebihan, tak melakukan konversi hutan menjadi perkebunan, juga tak melakukan penambangan secara besar-besaran. Alasannya, mereka sadar bahwa dengan melakukan seperti itu, alam pasti marah dan murka kepada manusia. Jika alam sudah murka, yang terjadi adalah bencana dengan berbagai bentuk.

Mereka tidak bodoh, mereka tahu bahwa emas dan mineral itu adalah kekayaan, mereka mengerti bagaimana bercocok tanam yang baik dan menguntungkan. Tapi mereka begitu sayang dan hormat pada alam. Mereka tak mau membuat alam murka. Makanya mereka memuja alam karena bagaimana pun pula, alam dan lingkungan lainnya adalah makhluk hidup seperti manusia. Dengan dapat survive atas pemberian alam saja, mereka sudah merasa puas.

Namun, sistem kepercayaan mereka dirusak dengan kedatangan orang asing. Atas nama agama pula nenek moyang kita dikelabui supaya kekayaan alam yang tersimpan di bumi Indonesia bisa mereka bawa. Modernisasi, istilah itulah yang meracuni otak nenek moyang kita dulu. Akibatnya timbul keserakahan, terjadi rebutan antara manusia Indonesia dengan orang asing.

Akibatnya sekarang bisa dirasakan. Manusia kapitalas juga serakah itu tanpa belas kasihan menebangi hutan, menggali sumur minyak, mengeruk mineral tanpa memperdulikan masyarakat sekitar, keberadaan ekosistem, iklim, serta kehidupan generasi mendatang. Muncullah sekarang apa yang dinamakan pemanasan global karena emisi karbon sudah tak terserap oleh pepohonan lagi. Dari waktu ke waktu asap semakin mengepul dari jalan raya, pabrik, dan kebakaran hutan menciptakan emisi karbon.

Upaya penerapan ekonomi hijau saat ini tak hanya bisa dalam bentuk CSR saja, tapi mesti menjadi suatu kesadaran perusahaan-perusahaan. Mereka mesti sadar bahwa kerusakan lingkungan akibat operasi mereka selama ini. Mereka mesti membayar mahal kerusakan lingkungan dan sosial. Tentunya pembangunan ekonomi yang selama ini dibanggakan tidak seberapa kontribusinya dibanding dengan kerusakan alam, lingkungan dan sosial.

2 komentar:

  1. Hebat kau Sirait. Saya doakan Kau jadi Menteri Lingkungan Hidup supaya kau bisa atur itu penghematan sumber daya alam dan perjuangkan keadilan sosial. Bravo

    BalasHapus
  2. Terimakasih Infonya
    artikel yang bagus,
    sangat bermanfaat..
    Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Ekonomi di UII Yogyakarta
    :)
    twitter : @profiluii :)

    BalasHapus