Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Jumat, 01 Juni 2012

115 Tahun Tan Malaka


Penguasaan dan Pemerataan Ekonomi

Tanggal 2 Juni 1897, di Suliki Sumatera Barat, seorang bayi mungil lahir dari kandungan seorang ibu bernama Sinar Sinabur. Terlahir dengan nama Ibrahim. Beranjak dewasa beroleh gelar Datuk Tan Malaka. Kemudian dikenal dengan nama Tan Malaka. 2 Juni 2012 ini telah memasuki 115 tahun hari kelahirannya.

Banyak karya dari buah pikirannya yang orisinal tentang Indonesia. Satu karya besar berjudul Madilog menjadi rujukan para pengikut Tan Malaka. Karya besar ini memperlihatkan keorisinal pemikiran Tan Malaka untuk membentuk manusia-manusia Indonesia. Sayangnya, pemikiran serta gerakannya terkucilkan. Dia adalah ”Bapak Republik yang Terlupakan”.

Istilah serta konsep republik untuk Indonesia pertama kali keluar dari pemikirannya dalam sebuah brosur, berjudul ”Naar De ’Republiek Indonesia” atau Menuju Republik Indonesia (1924). Dalam brosur ini, Tan Malaka merangkum program-program Indonesia setelah beroleh kemerdekaan. Pada brosur ini pula, metode perjuangan untuk merebut kemerdekaan dituangkan. Sebagai reflkesi hari kelahirannya, saya hanya ingin berkicau terkait menuju Republik Indonesia yang dimaksud Tan Malaka.

***

Tahun 1924, Tan Malaka telah menuangkan pemikiran tentang sebuah negara yang bernama Indonesia menuju kemerdekaan. Pemikirannya ia tuangkan ke dalam bentuk brosur. Kini tulisan tersebut sudah bisa dibaca dalam bentuk buku. Tak hanya strategi dan taktik yang ia susun, tapi program-program yang mesti dijalankan oleh Republik Indonesia ia sebutkan. Jernih, rapi dan orisinal. Asli Indonesia isi programnya.

Saat itu, belum ada tokoh yang sejernih dan seorisinal pemikiran dari Tan Malaka. Meskipun Budi Utomo sebagai organisasi yang pertama kali berdiri (1908), tapi belum mampu menyusun program menuju kemerdekaan. Bahkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah dimasuki Tan tak terdapat program semacam itu. Organisasi lain seperti Indische Partij dan Serikat Islam pun tak punya program semacam Tan Malaka. Mereka hanya berjuang untuk merdeka, tapi belum menyusun program untuk dijalankan setelah merdeka.

Tan Malaka di tahun tersebut berusia 28 tahun. Usia dengan jiwa muda yang terus bergelora. Adapun tokoh Soekarno kala itu usianya masih 24 tahun. Kemungkinan dia baru lulus kuliah di Technische Hoge School Bandung. Atau mungkin saja tengah menyelesaikan tugas akhirnya. Soekarno masih sibuk dengan diskusi, bergaul dengan para pelajar, dan masih banyak belajar tentang negara.

Sutan Sjahrir, masih dianggap anak remaja oleh Tan Malaka. Bagi Tan, Sjahrir anak baru kemarin sore, tapi belagu. Usianya baru 16 tahun yang dikemudian hari menjadi tokoh Sosialis Demokrasi (Sosdem). Ideologi yang dipandang Tan sebagai budak-budak kapitalis.

***

Pada Bab II buku Naar de 'Republiek Indonesia', Tan Malaka menulis mengenai kapitalisme di Hindia Belanda. Isinya ”Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiang-tiang yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu. Kita mengetahui sebelumnya bahwa cepat atau lambat gedung itu sekali waktu akan runtuh seluruhnya.”

Tan Malaka mengatakan bahwa Indonesia tak akan pernah menggantungkan politik serta berharap supaya negara-negara kapitalis runtuh terlebih dahulu. Jika gedung itu runtuh, dan tiang penyangga gedung itu ikut jatuh, saatnyalah Indonesia harus memulai menciptakan tatanan baru. ”Tetapi kita tak tahu kapan gedung itu roboh,” begitu yang saya tangkap dari buku Tan Malaka.

Di antara banyak program yang dituangkan Tan Malaka, saya lebih tertarik dengan program ekonominya. Alasan utamanya, hingga kini Indonesia belum mencapai kemerdekaan 100% seperti yang dikonsepkan dan diperjuangkan Tan Malaka. Apa sebab? Perekonomian adalah tulang punggung dari kemerdekaan itu. Bila negeri menguasai sektor dan alat ekonomi, sudah dapat dipastikan negeri tersebut memiliki jati diri dan berdaulat.

Terkait ini, Hatta juga sependapat. Dia mengatakan, “Apalah artinya merdeka secara teritori tanpa merdeka secara ekonomi.” selain dari Hatta, saya juga mengutip pernyataan Ekonom Gustav Cassel [1866-1945], “apalah artinya konsolidasi demokrasi tanpa konsolidasi ekonomi.”

Tengoklah sekarang, setelah rezim orde lama runtuh dan digantikan orde baru, sektor ekonomi dan alat produksi dikuasai asing. Sementara perkonomian Indonesia dikendalikan oleh segelintir orang, yang mayoritasnya taipan-taipan berasal dari negeri China. Saya tak bermaksud rasis, tapi hal ini terkait dengan kesejahteraan bersama serta pemerataan kue ekonomi dari suatu rezim. Soeharto lebih percaya kepada pengusaha berdarah China dibanding pribumi.

Tak hanya kepada China saja, Soeharto juga pernah memberikan perlakuan khusus terhadap pengusaha berdarah India dan Sri Lanka. Perlakuan khusus juga diberikan kepada sanak keluarga, saudara, teman dekat dan kroni-kroninya dalam membagi-bagikan kue perekonomian. Sebenarnya, perlakuan khusus (kepada imigran China) seperti itu bermula dari pemerintahan Hindia Belanda (Joe Studwell, Asian Godfather: 2006). Namun, konglomerasi para pengusaha menguat pada era pemerintahan Soeharto.

Perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha ditutup-tutupi di era rezim orde baru. Tapi sekarang perselingkuhan tersebut dipertontonkan di hadapan publik. Penguasa butuh modal besar untuk memperkuat bahkan melanggengkan kekuasaan politiknya, sementara pengusaha butuh wilayah kekuasaan ekonomi. Dengan simbiosis mutualisme seperti itulah bisa memperkuat perselingkuhan.

Akibatnya negara hanya menerima bagian dalam bentuk pajak saja, dan penguasa menerima upeti. Sementara usaha kecil menengah akan tetap kecil, sulit berkembang. Sulit sekali ingin menjadi pengusaha besar hanya mengandalkan modal saja, butuh koneksi ke penguasa. Pengusaha independen hanya ditemukan pada skala usaha kecil dan menengah.

Tentu saja ini bukanlah kondisi yang sehat. Berbanding terbalik dengan konsep merdeka 100% yang diperjuangkan Tan Malaka. Tan Malaka menginginkan, beberapa sektor ekonomi serta alat produksi yang penting dikuasai dan dikendalikan negara. Juga usaha ekonomi mesti dibagi-bagi secara merata. Perjuangan Tan Malaka berakhir karena dibunuh oleh seorang tentara. Menurut Sejarawan dari Belanda Harry A Poeze, Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar