Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Senin, 28 Mei 2012

Sinisme terhadap Bahasa Indonesia


tampak siswa pusing mengisi soal unas.
sumber gambar: jpnn.com
Dimasukannya mata pelajaran Bahasa Indonesia pada setiap jenjang pendidikan bertujuan untuk menjaga keutuhan bahasa nasional. Diharapkan generasi bangsa dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar secara lisan maupun tulisan. Tak sampai di sini, pelajaran Bahasa Indonesia dimasukan ke dalam Ujian Nasional (Unas). Sayangnya, pengajaran bahasa kita sendiri sering gagal. Nampak dari minat siswa amat minim serta nilai yang diperoleh siswa rendah pada berbagai jenjang sekolah.

Pengumuman kelulusan Unas 2012 tingkat SMA/sederajat beberapa hari lalu telah menunjukkan hal itu. Seperti yang diberitakan harian umum Kompas (26/05/2012), dari 2.210 siswa tak lulus pada satu mata pelajaran—nilai kurang dari 4—822 siswa tak lulus Matematika, 484 siswa pada Bahasa Indonesia, 165 siswa pada Bahasa Inggris, sisanya pada pelajaran lain.

Terlihat perbandingan antara pelajaran Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris amat jauh. Kondisi ini bukan kali pertama, tahun-tahun sebelumnya juga sama. Penyebabnya bisa karena soal ujian berbeda dengan materi yang diajarkan guru, soal yang diterima siswa lebih sulit dibandingkan soal Bahasa Inggris, atau soal dan pilihan gandanya masih bersifat debatable. Akibatnya membingungkan peserta Unas. Siswa pun terkecoh dengan pilihan ganda yang tersedia.

Apalagi jika soalnya membutuhkan konsentrasi tinggi, mesti menggunakan daya nalar yang kuat. Siswa mesti berpikir lama hingga mengerutkan dahi sembari mengusap-ngusap keringat yang bercucuran. Lebih parah lagi jika siswa beserta gurunya menaruh sikap sinisme terhadap bahasa Indonesia (Mudah-mudahan pandangan ini tidak benar 100 persen).

Sinisme merupakan sikap serta pandangan seseorang terhadap sesuatu yang diejek atau direndahkan. Lebih sederhananya, sinisme adalah sikap mengejek atau memandang rendah. Kenyataan di lapangan membuktikan hal itu.

Tak sedikit guru hanya seperlunya saja mengajar bahasa Indonesia kepada para siswanya. Ditambah lagi kalangan siswa emoh dan bosan mengikuti pelajaran ini. Mereka sering kali berpikir, Bahasa Indonesia itu pelajaran yang paling mudah dari pada pelajaran lainnya. Bahkan tak sedikit pula yang berpandangan, Bahasa Indonesia tak penting.

Lebih penting mempelajari Bahasa Inggris karena cukup menjanjikan kehidupan masa depan. Hanya berbekal kemampuan bahasa Inggris saja dapat beroleh pekerjaan dengan mudah. Kita tak perlu munafik dengan pandangan seperti itu. Pandangan ini sudah terbentuk pada masyarakat Indonesia, baik kalangan siswa, pendidik, maupun orang tua siswa. Orang tua kerap kali membentuk anak-anaknya dengan pandangan semacam itu.

Penting disadari, masih banyak pelajar serta akademisi dalam menggunakan kata dan kalimat bahasa Indonesia secara lisan, kadang tak tepat meski dapat dipahami lawan bicara. Tetapi, jika dibiasakan malah akan merusak struktur bahasa Indonesia. Bahasa bagian dari budaya yang berpengaruh pula terhadap budaya Indonesia.

Itu masih dianggap wajar, yang tak wajar jika sudah dalam bentuk tulisan. Penggunaannya tidak sembarangan, ada ilmunya. Pelajaran Bahasa Indonesia berkaitan dengan ilmu linguistik dan sastra. Ada proses pengajaran ilmu dan  keratif. Bahasa amat berguna dalam mentransformasikan pesan secara baik, benar, elok dan tepat. Bahasa merupakan simbol dalam berkomunikasi. Dengan bahasa, pikiran manusia dapat dibentuk sesuai keinginan kita.

Dan, bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa. Seseorang akan kehilangan jati diri jika tak menguasai bahasa nasionalnya. Siswa justru tak diarahkan ke sana. Selama ini siswa hanya memahami bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Suatu kondisi yang sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar