Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Minggu, 27 Mei 2012

Seakan Dunia Membencinya

Ditulis di Bandung pada 17 Oktober 2009
Ilustrasi.
“Bencana itu jahat,” kata bocah laki-laki berumur 7 tahun itu saat duduk sendiri. Seakan dia berdialog dengan seseorang, atau mungkin dia ingin berdialog dengan Tuhannya. Tapi apakah bocah seumur itu sudah mengenal dengan penuh keyakinan, siapa Tuhannya. Kalau dia sudah mengenal, kenapa Tuhan tidak memberikan pertolongan. Ibu-bapaknya tidak bisa dibangunkan lagi setelah bencana tsunami.

Bocah ini hidup tanpa ada pengayoman dan kasih sayang dari siapapun. Belum ada tarikan tangan dari seesorang yang mengasihaninya.

Bocah kecil ini belum paham faktor penyebab bencana yang menimpa dirinya, keluarga, kerabat dan kampungnya. Yang terlintas di benaknya, adalah saat menerima pelajaran Agama dari seorang guru Agama di madrasah.

Dia sering mendengar gurunya menceritakan kisah-kisah para nabi. Ada nabi Ayub yang mendapatkan cobaan berupa penyakit menahun. Ada kisah nabi Nuh, berupa banjir yang menimpa kaumnya.

Nabi Luth dan kaumnya yang durhaka, sehingga kaum sodom sebagai kaum Luth diberikan azab. Dan masih banyak kisah lainnya yang dikaitkan dengan bencana. Hanya itu yang dia tahu mengenai bencana. “Bencana itu, Tuhan yang memberikan karena manusia ingkar,” batinnya kerap kali mengatakan itu.

“Kenapa mesti kami, kenapa mesti keluargaku, dan kenapa mesti aku,” pertanyaan seperti itu ia tumpahkan dari hatinya. Padahal usia segitu jarang pertanyaan itu terlontar.

Mungkin karena permasalahan yang dihadapi. Sehari-hari yang dilakukan hanya melihat puing-puing reruntuhan, memandang lautan, tak tampak rasa takut, dan terpikirkan olehnya kemungkinan bencana akan menyusul. Dia ingin sekali berbincang dengan laut.

Dia ingin melontarkan satu pertanyaan. “Apakah kamu benci kepada kami,” pertanyaan itu ingin sekali ia sampaikan kepada laut. Tapi apa daya, lamunan dan kesedihanlah yang terliputi.

Tiba-tiba batinnya dirundung rasa takut, gelisah, antara hidup dirinya dengan masa depan. Bocah ini tidak memiliki orang terdekat lagi.. Tidak punya orang yang bisa menghilangkan trauma. Dia pun mengingat-ingat kejadian bencana itu.

Tapi, ah, dia tak kuasa mengingatnya kembali. Hanya gumpalan air laut menghantam pantai daratan yang diingat bocah ini.

Seminggu kemudian Ia hidup di bawah bantuan. Orang tua asuh. Sepasang suami istri yang membawanya ke sebuah rumah. Dia merindukan rumah, rindu orang tua dengan belaian kasih sayang. Kasih sayang orang tua kandung tidak bisa diukur dengan bukit emas.

Teguran maupun pukulan orang tua kandung bukanlah siksaan, tapi kasih sayang untuk kebaikannya. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya tumbuh dengan kesedihan. Dan orang tua mana, tidak sedih melihat anaknya menderita.

Sangat berbeda sekali saat orang tua angkat memberikan kasih sayang kepada seorang bocah itu. Atau sangat berbeda saat orang tua angkat memberikan hukuman. Rumah itu seperti neraka bagi bocah itu. Dia berada di bawah atap yang penuh dengan kegelapan hidup.

Cacian, hinaan, makian, pukulan, tendangan, tamparan, sudah menjadi santapannya. Empat tahun, ya, empat tahun. Tak ada yang menolongnya. Tidak ada yang iba.

“Akankah Tuhan, sebuah nama yang sering dia dengar saat di madrasahnya dulu, mengasihaninya dan mengakhiri semua ini?” pertanyaan itu kini terbesit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar