Rudini Sirat

Saha Maneh Saha

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Nomor kontak saya 085721653609. info lengkapnya di http://www.facebook.com/rud.tankian/info

Selasa, 17 April 2012

Kartini dan Teladan Perempuan

Dalam tulisan ini saya lebih suka menggunakan istilah perempuan dari pada wanita. Alasannya, istilah wanita digunakan untuk memposisikan dirinya sebagai objek. Dalam kreta basa, wanita berasal dari dua bentukan suku kata, yaitu wani ditata dan wani ing tapa (berani menderita). Sementara perempuan terkait peran dalam kehidupan domestik maupun publik. Kata perempuan berasal dari kata Empu yang memiliki makna sokong, hulu, mahir, dan mandiri. 


Perempuan Indonesia bersyukur memiliki pahlawan emansipasi, Raden Ajeng Kartini. Mereka sadar, tanpa sosok RA Kartini tidak akan bisa merasakan dunia luar. Istilah emansipasi menjadi ideologi pendobrak sekat dan dinding rumah. RA Kartini menggiring perempuan Indonesia ke luar rumah. Bahkan, dapat memegang kunci rumah sendiri tanpa harus dibukakan oleh laki-laki. Kini, perempuan Indonesia tampil hampir sejajar dengan laki-laki. Mereka hadir di pemerintahan, dunia politik, usaha, dan lainnya. Tanggal kelahirannya 21 April 1879 dijadikan hari besar. Sosok Kartini dijadikan simbol perempuan Indonesia. Sebelum Kartini hadir, perempuan Indonesia tak beroleh kesempatan seperti itu.

Kartini adalah sosok perempuan agung yang menjadi panutan perempuan Indonesia. Namanya sulit dilupakan dari genenari ke generasi. Tengok saja setiap tanggal 21 April selalu ada perayaan mengenang Kartini dengan berbagai bentuk, dari mulai anak sekolahan hingga ibu-ibu. Khusus di sekolahan, para guru mengajak murid-muridnya menggelar hari Kartini dengan parade di jalanan lengkap mengenakan kostum adat perempuan Indonesia. Tentunya berbagai kalangan perempuan Indonesia menggelar peringatan hari Kartini dengan cara yang berbeda. Tergantung identitas masing-masing sehingga cara mengekspresikannya pun berbeda.

Banyak perempuan Indonesia sudah menunjukkan identitas dirinya di hadapan publik dengan menyandang berbagai profesi. Bahkan para model perempuan telah menjadi bagian dari ikon Kartini. Dulu, perempuan hanya menjadi objek kaum laki-laki. Mereka tak lain hanya the second sex. Bisa dikata sebagai objek seks kaum laki-laki. Tapi kini pandangan itu sudah dinegasikan dengan berbagai perubahan pada diri perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia juga memainkan peranan vital bagi kehidupan umat manusia.

Tampilnya perempuan di ruang publik merupakan sebuah tanggung jawab. Terdapat peran yang tak bisa dimainkan laki-laki. Bukan sebagai buruh pabrik atau kasir, tapi pengelola keuangan. Perempuan bisa menghindari sifat koruptif karena mereka memiliki rasa tanggung jawab penuh dibanding laki-laki. Uang merupakan darah bagi perekonomian, bahkan bagi kehidupan. Tanpa pengelolaan yang baik, umat manusia akan celaka. Kaum laki-laki lupa, bahwa perempuan penuh dengan nilai filosofis saat berada di ranah domestik juga publik.

Di manapun posisinya berada, perempuan bekerja berlandaskan tanggung jawab. Lihatlah domain kerumahtanggaan mereka sebagai training bagi kehidupannya. Perempuan memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarga. Dia mengurusnya dari hal terkecil hingga hal terbesar. Laki-laki kebanyakan hanya bertanggung jawab mencari dana. Jika kekurangan pun, perempuan terlibat dalam pencarian dana. Semuanya dilakukan demi kelangsungan hidup keluarga sebagai pranata sosial terkecil dalam kehidupan.

Oleh karena itu, hasil nafkah yang didapat mesti dikelola. Perempuan dipercaya memerankan posisi sebagai bendahara. Urusan bendahara adalah mengatur uang masuk dan uang keluar. Seluruh pengeluaran dalam keluarga menjadi tanggung jawabnya. Pengaturannya dilakukan secara mandiri. Uang keluar diatur untuk kebutuhan anggota keluarga supaya tercukupi. Dia jarang mementingkan pribadinya. Bahkan jatah dirinya rela dia berikan jika salah satu anggota keluarga lebih membutuhkan.

Peran perempuan lebih dari sekadar bendahara. Perannya seperti bank. Jika uang masuk lebih besar dari uang keluar, maka dapat dialokasikan pada hal-hal produktif. Uang diatur seefektif dan seefesien mungkin supaya tidak terjadi pemborosan. Pemborosan merupakan jalan menuju kehancuran keluarga.

Karakter seperti inilah yang semestinya disoroti. Kadang laki-laki tak mau tahu dengan urusan keluarga. Sebagai contoh, terdapat suami istri bercerai, maka istri mengambil alih dalam mengurusi anggota keluarga dengan penuh tanggung jawab. Jika suami meninggal pun perempuan lebih berani mengambil tanggung jawab terhadap keluarga meski dalam keadaan susah. Sangat berbeda dengan laki-laki yang sering membiarkan anggota keluarga (anaknya) hidup tak menentu karena tak sanggup mengurusnya.

RA Kartini telah membawa urusan kerumahtanggaan tersebut ke urusan yang lebih luas lagi. Kini, publik melirik perempuan. Sedikit demi sedikit banyak kalangan yang lebih percaya pada perempuan, seperti bank, perusahaan, dan pemerintahan. Dalam penyaluran kredit, bank lebih percaya terhadap entrepreneur perempuan. Hasilnya bisa dilihat di beberapa laporan yang sering dilansir oleh media massa, sangat kecil sekali kredit macet terjadi.

Sayangnya banyak yang tidak sadar dengan hal tersebut, ruangan yang seharusnya diisi oleh perempuan masih didominasi kaum laki-laki. Perempuan Indonesia berjuang bukan meminta jatah, tapi merebut haknya.

1 komentar:

  1. Perempuan Indonesia berjuang bukan meminta jatah, tapi merebut haknya

    saya suka quote nya ^^

    BalasHapus